Tips Menyusun Antalogi


by Ida

Menyusun antologi ternyata gampang-gampang susah, meskipun bisa dilakukan penulis pemula yang belum banyak karya (seperti saya, hehe). Banyak yang saya petik dari pengalaman menyusun antologi pertama saya (sebelumnya saya baru punya karya di satu antologi saja), yaitu lumayan rumitnya ketika menerima naskah yang masuk bertubi-tubi, apalagi menjelang deadline justru makin banyak. Harus membuka satu per satu e-mail yang masuk dan men-download file tulisan peserta. Kemudian harus membacanya lagi satu per satu, bahkan akan diulangi sampai beberapa kali tanpa disadari untuk keperluan menyeleksi naskah.

Untuk naskah yang saya kumpulkan selama kurang-lebih 2 tahunan (wah ini antologi paling lama mengumpulkan naskahnya barangkali), yaitu versi Multiply dan Facebook, akhirnya saya benar-benar “keblinger” karena awalnya dulu saya memiliki ide untuk membuat lomba tentang cerita menarik di Perpustakaan hanya untuk kepuasan bathin. Ceritanya, saya yang dulu kuliah di Jurusan Ilmu Perpustakaan & Informasi sempat menjadi Librarian (Pustakawati) meski sebentar, ingin bernostalgia. Hihi …

April 2009 saya sudah mengumumkan pemenang lomba menulis “Kisah Seru di Perpustakaan” di Blog Multiply saya. Setelah itu lega, yang jelas hadiah yang dijanjikan sudah dikirim. Lucunya, saya bukanlah penulis berpengalaman maupun yang memiliki keahlian editing. Saya hanyalah seorang mantan pustakawati yang suka membaca dan menulis, punya keinginan untuk menerbitkan buku di bidang yang pernah saya terjuni (dan ditinggalkan, hiks). Jadi, siapa saja bisa menjadi penyusun sebuah buku antologi (kumpulan karya tulis seperti essai, cerpen, puisi dll). Naskah yang berjumlah 164 judul itu menumpuk begitu saja, saya harus menjalani kodrat sebagai Ibu untuk hamil dan melahirkan anak ke-3 (dari kehamilan ke-4), lantas sibuk sejak”mabuk hamil”, melahirkan pada bulan Januari 2010 kemudian mengurus bayi.

Waktu terus berjalan, setelah lewat masa sibuk mengurus si kecil, saya tiba-tiba “kumat” lagi … hihi! Pertengahan (mungkin lebih) 2010 saya kembali terdorong untuk menyusun kembali cerita tentang pengalaman berkesan di Perpustakaan, akhirnya mengundang teman-teman untuk menjadi kontributor naskah “One Day in Library” via Facebook. Naskah yang masuk 68 judul, ditambah naskah versi Multiply jadi total berjumlah 212 judul! Bingung deh … Banyak yang mirip, pilih yang mana? Saya baca berulang-ulang, memakan waktu cukup lama. Lalu ditambah lagi kegiatan lainnya yang membuat sering tertunda penggarapan naskah ini. Rasanya saya sudah “kebelet” untuk menerbitkan buku ini … Entahlah nanti judulnya menjadi “apa”. Semoga tak lama lagi, amin.

Selama proses menerima naskah melalui e-mail, membuka file dan saat membacanya, ada perasaan menyenangkan dan memposisikan saya seolah seperti seorang editor (padahal saya sekadar membacanya saja, tidak mengedit). Posisi sebagai seorang penulis pemula jadi bertambah pengalaman, saya jadi tahu bahwa jika kita mengikuti lomba atau audisi penulis ternyata seperti “ini” posisinya, naskah kita terjepit di antara naskah-naskah peserta yang lain. Banyak yang serupa tapi tak sama, atau jalan ceritanya sebenarnya bagus namun penulisannya kurang “tertib”. Saya tidak menyatakan bahwa tulisan saya sudah bagus, yang penting tugas saya adalah memilih mana cerita yang paling menarik yang saya butuhkan, sesuai dengan tema berkaitan.

Setelah berpanjang lebar, saya ingin membagikan pengalaman buat
teman-teman yang belum pernah menyusun antologi (misalnya
sebelumnya sudah rajin ikutan lomba atau audisi penulis). Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Niat awal menyusun antologi dengan satu tema, harus diperjuangkan untuk diterbitkan. Serius.
2. Siap lahir bathin, menanggung resiko yaitu menyediakan waktu khusus untuk membacanya dan melakukan pengeditan oleh penyusun antologi maupun minta tolong pada editor. Selain itu siap mental untuk menerima pertanyaan-pertanyaan para peserta untuk mencek naskah sudah masuk atau belum, dan sebagainya. Yang terakhir adalah siap mental menghadapi peserta yang kecewa karena naskahnya tidak lolos.
3. Mempertimbangkan untuk membuat undangan menulis kepada “banyak peserta”, atau hanya sejumlah orang yang kita kenal dan ketahui tulisannya seperti apa (secara keseluruhan). Jika menerima sekian banyak naskah namun tidak semua langsung masuk kriteria, atau jauh dari harapan, akan sangat melelahkan. Namun ini juga tergantung dari kesediaan penyusun atau penyelenggara lomba (apa tujuannya). Kalau ada unsur promosi dan pembelajaran, memang sangat baik. Secara pribadi, untuk penulis pemula yang ingin menyusun antologi adalah lebih baik mengajak beberapa orang teman untuk “langsung” menulis apa yang dibutuhkannya. Fokus.
4. Mengenai jumlah penulis, juga berkaitan dengan masalah royalti. Makin banyak penulis, makin ribet membaginya. Kalau untuk lomba, mungkin belum tentu hasil lombanya akan dibukukan, namun untuk undangan menulis atau audisi penulis tentunya akan dipilih sejumlah penulis yang nantinya harus diperhatikan benar Hak-nya dalam hal royalti. Bisa juga sejak awal disebutkan bahwa naskah yang lolos tidak akan memperoleh royalti, atau royalti yang diperoleh akan digunakan untuk suatu kepentingan misalnya dijadikan kas atau disumbangkan.

 

5. Mungkin ada gunanya juga jika setiap penulis dikirimkan FORM pernyataan bahwa bersedia naskahnya masuk dalam antologi dan diterbitkan dalam bentuk buku dengan jumlah royalti sekian persen, atau pernyataan bahwa bersedia tidak mendapatkan royalti. Penulis dapat mengirimkan kembali FORM tersebut dengan dilengkapi tanda tangan plus materai 6000 (ada komentar atau ralat, teman-teman?) Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan di masa yang akan datang, misalnya ada tuntutan dari salah seorang kontributor naskah.
6. Format pengiriman, standarnya sudah tidak perlu saya bahas (tipe huruf, spasi, dll). Namun perlu diperhatikan untuk subjek di E-mail, idealnya urutannya seperti ini : [nama antologi] judul_nama asli penulis misalnya : [ODiL] Perpustakaan Sialan_Fahmida Sarla. Kalau perlu, peserta membuat judul yang lebih simple, tidak terlalu panjang.
7. Untuk biodata, lebih bagus kalau dicantumkan di bawah tulisan, jadi berada dalam satu file. Karena kalau terpisah akan membuat lama download-nya (jadi memakan waktu lebih banyak). Begitu juga kalau ada fotonya, insert saja langsung di bagian atas atau bawah biodatanya.
8. Data peserta yang diminta, mencakup : nama asli sesuai KTP, nama akun di Facebook (yang tetap, tidak ganti-ganti seperti yg pernah saya lakukan, hehe), nama akun di e-mail, nama di Blog dan sebagainya. Sering penyusun kesulitan men-TAG info karena nama akun FB jauh berbeda dengan nama asli penulis dan e-mail.
9. Masalah teknis pengiriman naskah, jika tidak mengejar waktu (terburu-buru) alias santai mengumpulkan naskah antologi, bisa juga penulis diminta mengirim naskah dalam bentuk print-out via pos ke alamat penyusun. Hal ini bisa memudahkan penyusun untuk membacanya dan membuat “oret-oretan” (mengedit) dengan lebih mudah dan tentu saja menghemat tinta printer! Sementara, kalau hanya baca melalui layar komputer atau laptop pastinya lebih melelahkan mata dan tidak bisa mencicil kapan saja. Kalau baca naskah tercetaknya, tinggal ditumpuk dan saat kita sempat akan lebih mudah dibaca dibandingkan naskah dalam bentuk file di komputer.
10. Terakhir nih, jika tema yang kita pilih tidak semua orang familiar atau belum tentu semua lancar menuliskannya, sebaiknya tidak usah tergesa-gesa membuat undangan menulis (bagi penulis untuk kepentingan pribadi, yaitu memiliki karya buku antologi). Namun jika temanya sangat populer atau familiar sehingga mudah bagi banyak penulis membuatnya, ada 2 pilihan : 1). Mengundang banyak peserta, agar memperoleh banyak variasi cerita. 2). Mengundang sedikit penulis yang dikenal, sebaiknya cepat-cepat digarap (diselesaikan proses penyusunannya menuju proses pencetakan dan penerbitan) karena tidak menutup kemungkinan orang lain akan membuat karya dengan tema yang serupa, jadinya karya kita “keduluan” deh. Jadi, begitu punya ide naskah … segeralah bergerak cepat agar tidak ada pihak lain yang menyusun buku yang temanya mirip atau bisa sama persis dengan apa yang ingin kita sampaikan. Bagi yang mengundang menulis, sebaiknya juga memberi pesan agar teks undangannya tidak dishare ke pihak lain. Untuk penulis yang diundang, sangat diharapkan menjaga amanah tersebut. Meskipun antar sesama penulis, ada baiknya pula kita merahasiakan tema karya yang akan dibuat.

Demikian sharing kepenulisan oleh saya, penulis pemula yang sedang berjuang menyusun antologi (setelah 2 tahunan belajar menulis) dan “matian-matian” (mudah-mudahan hanya istilah) menyusun karya solo. Tentunya untuk mewujudkan cita-cita menjadi penulis tidaklah secara instan, bukan? Ada proses panjangnya, jadi bagi yang baru memulai langkahnya memutuskan jadi penulis harap bersabar dan memaklumi jalan berliku di dunia ini.

OK, selamat mencoba menyusun antologi ya … teman-teman (bagi yang belum). SEMANGKA !!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s