100.000.000


“Selain training finansial ini, Pak Feri kuliah di sini juga ya?”
“Iya Bu.”
“Angkatan berapa?”
“Saya angkatan Juli 2010.’
“Ooh. Ambil MM ya Pak?”
“Iya, MM.”
Ehm… kalo boleh tau, MM di sini berapa Pak?”
“Seratus. Tapi boleh nyicil.”

Aku berusaha menyembunyikan keterkejutan aku mengenai nominal yang disebutkan. Tapi, tetap saja ekspresi wajahku tidak bisa berbohong.

“Saya nyicilnya, di awal 26, trus selanjutnya tiap semester 18.”
“Ooh…” Lagi-lagi aku ber-oh..oh.. Membayangkan darimana asal uang sebanyak itu.

“Sebenernya kuliah MM ga susah kok Bu.”
“Ha, yang bener Pak, itung-itungan kaya di training tadi ga susah?”
“Susahan juga Ibu, waktu ambil teknik. Kuliah MM ituyang susah waktunya, gimana komitmen kita.”
“Iya sih ya Pak, soalnya kita kan nyambi kerja ya.”
“Iya, trus kan kalao MM banyak tugas-tugas, dibikin group discussion kaya kita tadi. Nah, komitmen kita nih untuk nyelesaiin tugas, ketemuan sama kelompok. Itu yang susah.”
“Oh gitu…”
“Tapi asik ya Pak, ilmunya jadi lebih dalem.”
“Iya Bu, untuk menunjang kerjaan kantor juga.”
“Pak Feri di-recommend kantor untuk ambil MM di sini?”
“Iya, saya dibiayain kantor.”
“Sip lah Pak… ok, saya pulang dulu ya.. see you Pak.”
“Ya bu. sukses ya.”

Dan setelah percakapan itu, di mushala, saat shalat ashar, air mata mulai menggenang. Shalatku ga khusyu’. Terbayang asyiknya belajar fiannsial, bisa baca laporan keuangan, bisa prediksi kebijakan apa yang akan terjadi, bisa membuat perencanaan, terutama untuk keluarga sendiri. Ah… Tapi semua impian itu ditutup awan kelabu yang bertuliskan ‘seratus juta’. Kemudian ada awan lain bergelayutan yang bernama KPR, cicilan DP rumah, dan mulai juga mengundang awan yang bernama KPM atau kredit pemilikan mobil.

Di atas kuda besi, sambil memeluk suami, aku ceritakan lagi 100.000.000 itu. Suami setuju untuk aku sekolah lagi. Paing, dia hanya bertanya ‘Duitnya ada ga?’ seperti biasa… sama seperti saat akhir bulan aku ingin membeli novel atau mainan anak.

Kemudian, karena aku bukan pemilik 100.000.000 itu, aku berfikir sok bijak. Zaman dulu, saat Ibnu Rusydi, Avicenna, Al Biruni, Arzachel, Alchemy, Ibnu Taimiyah berhasi berinovasi di bidangnya, lalu mengajarkan ke murid-muridnya, apakah mereka membanderol semuanya dengan 100.000.000?

Terbayang olehku Avicenna saat memberikan kuliah kedokteran, apakah harga 100.000.000 dia pasang karena ilmu kedokteran susah dan karena ia juga multi-knowledge juga dalam hal fiqh? Atau saat Al Biruni bermain matematika dalam ilmu bumi, apakah ada delapan buah angka nol di belakang angka satu? Rasanya tidak ya. Jadi, darimana si 100.000.000 itu asalnya, sehingga ia tiba-tiba menempel di suatu ilmu, dan seakan menampakkan kepongahan bahwa ilmu itu sangat berharga, yang sejatinya ilmu itu adalah untuk keberkahan, untuk kemashlahatan.

ALLAHU A’LAM BISHSHAWAB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s