Timanglah Hati Istrimu


Dalam sebuah kajian dzhuhur Ramadhan yang dibawakan Bunda Neno Warisman di kantor saya yang dulu, ada satu kalimat yang selalu saya ingat sampai sekarang. Kurang lebih isinya begini, “Bapak Ibu, kalau punya anak laki-laki, selain harus pintar mencari duit, dia juga musti pintar menimang hati istri.”

Reaksi saya waktu mendengarnya adalah nyengir, karena saya pikir ini hanya gurauan atau sindiran. Sindiran, karena betapa mudahnya istri ditimang hatinya alias dirayu, padahal tidak semua persoalan rumah tangga bisa terselesaikan denan rayuan atau pujian.

Tapi, setelah hampir empat tahun berumah tangga dan juga sering mendengar curhat teman-teman tentang kehidupan ruamh tangga mereka, akhirnya saya sepakat bahwa memang ada kebutuhan istri untuk ditimang hatinya.

Sebut saja Yuli, seorang teman kantor yang cukup banyak bercerita mengenai gaya rumah tangganya dengan sang suami. Waktu itu ceritanya sedang tidak ada pembantu. Ia sedang hamil anak ke-3. Praktis semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri olehnya. Di tengah lelahnya bekerja itu, ia melihat suaminya santai-santai saja di kursi, bermain bersama anak-anak. Waktu itu Yuli berharap si Abang, begitu panggilan Yuli ke suaminya, memberikan perhatian ke dia. Sebuah perhatian yang simple saja, seperti ucapan “capek ya, abis ngepel?”. Yuli merasa kalimat itu cukup untuk merasa dia diperhatikan dan bisa melenyapkan lelah setelah bekerja. Ah, boro-boro berkata seperti itu, si Abang malah sibuk berlalu-lalang bermain dengan dua anaknya. Dan akhirnya, Yuli pun hanya bisa menangis sambil melanjutkan pekerjaannya.

Mungkin bagi sebagian suami, menimang hati istri bukan hal yang penting. Tapi bagi orang seperti Yuli, ia sangat mengharapkan si Abang bisa menimang hatinya. Apalagi, dari ceritanya juga, ia membandingkan dengan kehidupan rumah tangga orang tuanya yang begitu mesra. Saat ibunya memasak di dapur, tau-tau sang ayah datang memeluk tubuh sang ibu dari belakang. Dan itu disaksikan oleh Yuli dan adik-adiknya. Maka tak heran, Yuli pun sebenarnya memimpikan sosok suami yang perhatian, minimal bisa menimang hatinya.

Lain lagi cerita Sari. Seorang teman yang menikah dengan duda satu anak, yang tinggal di rumah mertua. Problemnya, Sari yang sebelumnya termasuk wanita aktif di berbagai organisasi, marketing freelance sebuah perusahaan kosmetik ternama, kemudian harus mengurus semua hal di rumah mertuanya. Dari mengurus kebutuhan suami, anak, sampai pekerjaan rumah. Sebenarnya Sari termasuk wanita tangguh. Kalau hanya pekerjaan dengan kategori lelah fisik, saya yakin Sari bisa meng-handle nya. Tapi yang terjadi, yang dialami Sari bukanlah lelah fisik saja, tetapi juga lelah psikis. ia hanya mendapat sedikit apresiasi dari suaminya, bahkan tidak mendapat apresiasi sama sekali dari ibu mertuanya. Ini yang membuat dia sangat terbebani dengan pekerjaan rumah tangganya. Dan efeknya, wajahnya jadi muram, tubuhnya yang kurus semakin terlihat tidak bugar.

Di lain hari Sari bercerita, saat ia berjibaku dengan pakaian kotor yang sedang dicuci, sang suami datang, lalu menawarkan bantuan untuk menjemur. Hanya mendapat tawaran menjemur saja, Sari sudah sangat bahagia. Padahal bantuannya ringan saja, bukan bantuan untuk menghandle seluruh pekerjaan rumah tangga.

Jadi, bukan hal yang muluk untuk menimang hati istri. Bukankah kita sering mendengar bahwa kewajiban suami adalah nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir identik dengan materi, yang kita semua sepakat dengan detailnya, yaitu sandang pangan papan. Tapi nafkah batin, yang seringnya diidentikan dengan kebutuhan biologis, sepertinya mengalami penyempitan makna. Kebutuhan dihibur, diucapkan I love you, diberi apresiasi atas apa yang sudah dikejakan istri untuk keluarga, dan masih banyak lagi, sering terlewatkan dalam nafkah batin ini.

Dan sesungguhnya mudah saja untuk bisa menjadi suami yang bisa menimang hati istri. Caranya adalah :
1. Cintai istri dengan tulus, tidak cukup cinta yang membara yang ada di masa pendekatan atau awal pernikahan. Cintai istri karena dia adalah anugerah yang telah ALLAH berikan.
2. Pertajam mata untuk menyaksikan apa yang telah ia lakukan untuk rumah tangga, dan pertajam telinga untuk mendengar kebutuhan, keluh kesahnya. Mungkin, dalam hal-hal tertentu menurut suami keluh kesah istri adalah suatu hal yang remeh atau tidak penting. Sebaiknya pemikiran seperti ini dibuang jauh-jauh, karena apapun yang dirasakan istri maupun suami, semuanya adalah penting untuk harmonisnya rumah tangga.
3. Terakhir, latih hati untuk bisa berempati merasakan apa yang mungkin dirasakan istri. Hal ini tidak mudah dan perlu proses, tapi seiring berjalannya waktu, maka empati itu akan tumbuh di hati.

Well, saya bukanlah konsultan perkawinan. Wong pernikahan saya saja baru berusia empat tahun, dan bukan tanpa letupan. Tapi, semoga dari cerita beberapa teman tadi bisa menginspirasi para suami untuk menjadi lebih romantis dengan kemampuan menimang hati istri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s